Kamis, 10 Agustus 2017

Tukang Kambing Bersepatu Mengkilat

Setiap pagi di sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor pada pukul 05.30, sedang istri bersiap mengajar di sebuah sekolah pada pukul 06.30. tidak ada yang istimewa dari kedua aktifitas mereka trsebut. Bersama mengarungi mahligai rumah tangga sebagai orang-orang gajian, yang menurut sebagian orang berwatak enterppreneur dipandang sebelah mata. Sebagian saja, tidak berarti semuanya.
Tak banyak diketahui, sang suami yang berprofesi sebagai tenaga kependidikan disebuah PTN di Kota Semarang ternyata memiliki sidejob sebagai “Tukang Ngarit”. Setiap hari pukul 5.30 sengaja keluar rumah demi mencari makanan kambing piaraan. Baru kemudian setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut bergegas ke kantor lengkap dengan pakaian dan sepatu kantor yang rapih tanpa sisa bau kandang yang khas. Sebuah profesi sampingan yang biasanya lazim disandang oleh orang-orang pinggiran kota dengan sekelumit lahan sisa untuk dimanfaatkan sebisanya.
Dulu waktu kecil, barometer kesuksesan dipikiran saya hanyalah soal mobil dan rumah mewah. Berangkat kerja dengan menjinjing tas kantor berisi berkas-berkas penting perusahaan. Mengenakan sepatu mengkilap dan setelan jaz.
Semakin dewasa saya disuguhi kenyataan hidup yang unik. Barometer kesuksesan secara otomatis berubah mengikuti ideologi yang berkembang sedemikian rupa dipikiran saya. Sukses bukan lagi soal mobil, rumah mewah, sepatu dan berkas penting perusahaan yang menumpuk di meja kerja. Sempat tersimpan dalam memori bahwa kesuksesan adalah soal uang semata, bisa dari profesi apa saja yang  penting menghasilkan uang banyak. Singkat cerita saat ini saya berada pada fase yang tidak sama dengan ideologi uang di atas.


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tukang Kambing Bersepatu Mengkilat

Setiap pagi di sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor p...