Setiap pagi di
sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas
harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor pada pukul 05.30, sedang istri
bersiap mengajar di sebuah sekolah pada pukul 06.30. tidak ada yang istimewa
dari kedua aktifitas mereka trsebut. Bersama mengarungi mahligai rumah tangga
sebagai orang-orang gajian, yang menurut sebagian orang berwatak enterppreneur
dipandang sebelah mata. Sebagian saja, tidak berarti semuanya.
Tak banyak
diketahui, sang suami yang berprofesi sebagai tenaga kependidikan disebuah PTN
di Kota Semarang ternyata memiliki sidejob sebagai “Tukang Ngarit”. Setiap hari
pukul 5.30 sengaja keluar rumah demi mencari makanan kambing piaraan. Baru
kemudian setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut bergegas ke kantor lengkap
dengan pakaian dan sepatu kantor yang rapih tanpa sisa bau kandang yang khas. Sebuah
profesi sampingan yang biasanya lazim disandang oleh orang-orang pinggiran kota
dengan sekelumit lahan sisa untuk dimanfaatkan sebisanya.
Dulu waktu
kecil, barometer kesuksesan dipikiran saya hanyalah soal mobil dan rumah mewah.
Berangkat kerja dengan menjinjing tas kantor berisi berkas-berkas penting
perusahaan. Mengenakan sepatu mengkilap dan setelan jaz.
Semakin dewasa
saya disuguhi kenyataan hidup yang unik. Barometer kesuksesan secara otomatis
berubah mengikuti ideologi yang berkembang sedemikian rupa dipikiran saya.
Sukses bukan lagi soal mobil, rumah mewah, sepatu dan berkas penting perusahaan
yang menumpuk di meja kerja. Sempat tersimpan dalam memori bahwa kesuksesan
adalah soal uang semata, bisa dari profesi apa saja yang penting menghasilkan uang banyak. Singkat cerita
saat ini saya berada pada fase yang tidak sama dengan ideologi uang di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar