Kamis, 10 Agustus 2017

Kisah Awal Ngaji

Bismillah ya Rahman ya Rahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sahabatku yang dimuliakan Allah di manapun berada, semoga hidayah dan Taufiq senantiasa  menjadi pengiring langkah-langkah kita semua. Segala puji hanya milik Allah Rabb seluruh alam. Yang hanya kepadaNya kita wajib menyembah dan mengibadahi. Dia yang menegakkan langit dengan warna-warna  menakjubkan, yang meneguhkan gunung dan tebing-tebing tinggi, Dia yang tak pernah luput mengawasi dari setiap kejadian dan menjadi saksi bagi segala amal perbuatan.
Shalawat serta salam tercurah  kepada baginda rasul Muhammad Saw, yang kepada beliau cinta dan rindu ‘kedua’ pantas di labuhkan, melebihi cinta dan rindu kepada Ibu bapak. Semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang diberi syafaat oleh beliau di yaumil Hisab nanti. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Dalam tulisan ini saya tak hendak menggurui siapapun, justru hanya ingin berbagi tentang sesuatu yang selama beberapa bulan lalu menjadi unek-unek di dalam hati, sering menjadi gejolak hebat yang saya sendiri tidak bisa menemukan kebenaran yang benar-benar haq dari setiap pemikiran yang di jejalkan ke dalam otak saya. Saya seperti terombang-ambing dalam keyakinan tak pasti. Ketika semakin bertambahnya keingintahuan saya tentang islam, disanalah kebingungan menjadi awal dari sebab musababnya seluruh pertanyaan-pertanyaan yang secara otomatis bermunculan di benak saya. Seperti apa akidah itu, Bagaimana mentauhidkan Allah dengan semurni-murninya akidah, bagaimana menyikapi khilafiyah dikalangan umat islam, apa makna jihad dan hukum jihad itu sendiri dan masih banyak lagi terutama tentang golongan mana yang ingin saya ikuti.
Pertemuan pekan pertama saya sudah banyak sekali membantah pernyataan-pernyataan murobbi. Bukan karena merasa sok pintar, namun lebih kepada ungkapan ketidaksetujuan saya terhadap jalan pemikiran beliau. Sangat berbeda dengan apa yang selama ini saya dapat dari orang tua dan tempat saya biasa belajar agama sebelum ini. Tetapi bukan berarti dengan itu saya meninggalkan komunitas begitu saja, saya ikuti terus menerus kajian mereka lebih intensif. Hingga tak terasa enam bulan berlalu begitu cepat, ketika saya pelan-pelan mulai merasa jatuh cinta dengan kalimat-kalimat murrobi yang tidak suka mendoktrin, tidak mudah mengkafirkan seseorang, bertabayun terlebih dahulu tentang segala hal yang sering menjadi persoalan, sama sekali tidak saya temukan dalam diri beliau dan kawan-kawan bersikap ekstrim seperti sebagian orang yang merasa golongannya paling benar, bahkan tidak segan men’khawarij’kan orang lain ketika seseorang itu tidak sesuai dengan ajaran di golongan mereka. Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga kita terlindung dari perpecah belahan umat islam di akhir zaman ini yang semakin terlihat tanda-tandanya.
Kini saya semakin yakin dengan apa yang telah saya jalani. Selangkah demi selangkah, perlahan namun pasti. Tidak tergesa dan merelakan waktu untuk berjalan apa adanya mengikuti prosesi penurunan hidayah. Saya telah siap dengan segala resiko yang sudah menanti di depan mata. Termasuk ketika orang tua saya mencoba melarang saya mengikuti halaqoh pekanan ini lagi. Dengan alasan yang sebenarnya cukup masuk akal. Namun terkesan memojokkan muslimah yang berjilbab lebar dan berniqab. Semoga Allah berkenan memberikan petunjuk bagi mereka berdua Ayah dan Ibu.
Awalnya hanya seperti ini “Bapak cuma ingin mengingatkan nduk, sekarang ini situasi sedang tidak memungkinkan untuk anak gadis sepertimu keluar rumah sendirian, bapak tidak mau sampai kamu jadi korban ‘Brain Washing’ seperti berita-berita di Televisi baru-baru ini”
Saya mengangguk diam membenarkan perkataan ayah. Namun besoknya ketika suatu sore saya merasa sangat sesak nafas berada di dekat ayah yang saat itu sedang memegang sebatang rokok yang menyala, tanpa rasa risih sedikitpun menghisapnya di depan saya yang nyata-nyata terlihat sangat terganggu dengan aktifitas tersebut. Dengan penuh kekesalan saya mencoba mengingatkan ayah tentang manfaat dan mudhorotnya orang  yang merokok. Bahwa merokok di samping banyak membawa kemudhorotan bagi diri sendiri dan orang lain, juga tidak bermanfaat sama sekali. Bukankah Rasulullah pernah bersabda “di antara tanda-tanda baiknya islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya” (HR. Tirmidzi)
Kami pun terlibat dalam perdebatan yang tak terelakan. “kata siapa aktifitas merokok tidak punya manfaat? Para Aulia’ dijaman dahulu banyak di antara mereka yang merokok toh ilmu mereka tidak berkurang manfaatnya bagi perkembangan Islam sampai dengan sekarang, lagi pula merokok itu dapat merekatkan silaturahmi. Contoh  nih kalo ada tamu, rokok bisa dijadikan salah satu sajian yang mendampingi kopi atau teh kan?” kata ayah tidak mau kalah.
“Bisakah bapak sebutkan siapa di antara para Aulia’ itu yang bapak maksud mereka pernah di catat dalam biografi merokok sebagai salah satu aktifitas dakwahnya? Atau bapak sebutkan saja hadist tentang merokok itu adalah salah satu sunnah rasul yang di anjurkan untuk di ikuti?” tanyaku balik kepada Ayah.
Akhirnya kami pun sama-sama diam dan berlepas diri dari perdebatan yang tidak berujung kesepakatan itu.
Esok hari secara tiba-tiba ayah dan ibu memberi keputusan yang cukup mengejutkan, beliau berdua sekarang dengan tegas melarang saya mengikuti kajian rutin pekanan dihari ahad. Kecewa, saya benar-benar kecewa. Hanya karena perdebatan semalam membuat mereka berpikiran sempit. Mereka bilang sahabat saya selama ini yang memakai cadar adalah orang fanatik yang ekstrim ajarannya, dan secara tidak langsung mempengaruhi pikiran saya. Menurut mereka berdua sahabat saya itu akan membawa pengaruh buruk bagi diri saya suatu saat nanti. Parahnya lagi mereka mengaitkan kami dengan NII. Subhanallah, ah… bagi saya masa bodoh dengan apapun yang mereka katakan. Hari ini saya masih dengan santainya berangkat ke tempat ta’lim. Ayah dan Ibu yang mengetahui keberangkatan saya diam saja bahkan ibu masih sempat menyuruh saya sarapan sebelum berangkat tadi pagi. Saya jadi bingung dan tersenyum kecil meninggalkan mereka dengan wajah yang sulit di terka. Hhehe

Barokallohu fikum,
Semoga bermanfaat
Wassalam

 Semarang, kurleb 6 tahun lalu.

‘cah ayu’ UmmyNisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tukang Kambing Bersepatu Mengkilat

Setiap pagi di sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor p...