Bismillah ya Rahman ya Rahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sahabatku yang dimuliakan Allah di
manapun berada, semoga hidayah dan Taufiq senantiasa menjadi pengiring langkah-langkah kita semua.
Segala puji hanya milik Allah Rabb seluruh alam. Yang hanya kepadaNya kita
wajib menyembah dan mengibadahi. Dia yang menegakkan langit dengan
warna-warna menakjubkan, yang meneguhkan
gunung dan tebing-tebing tinggi, Dia yang tak pernah luput mengawasi dari
setiap kejadian dan menjadi saksi bagi segala amal perbuatan.
Shalawat serta salam tercurah kepada baginda rasul Muhammad Saw, yang
kepada beliau cinta dan rindu ‘kedua’ pantas di labuhkan, melebihi cinta dan
rindu kepada Ibu bapak. Semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang
yang diberi syafaat oleh beliau di yaumil Hisab nanti. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Dalam tulisan ini saya tak hendak
menggurui siapapun, justru hanya ingin berbagi tentang sesuatu yang selama
beberapa bulan lalu menjadi unek-unek di dalam hati, sering menjadi gejolak
hebat yang saya sendiri tidak bisa menemukan kebenaran yang benar-benar haq
dari setiap pemikiran yang di jejalkan ke dalam otak saya. Saya seperti
terombang-ambing dalam keyakinan tak pasti. Ketika semakin bertambahnya
keingintahuan saya tentang islam, disanalah kebingungan menjadi awal dari sebab
musababnya seluruh pertanyaan-pertanyaan yang secara otomatis bermunculan di
benak saya. Seperti apa akidah itu, Bagaimana mentauhidkan Allah dengan
semurni-murninya akidah, bagaimana menyikapi khilafiyah dikalangan umat islam,
apa makna jihad dan hukum jihad itu sendiri dan masih banyak lagi terutama
tentang golongan mana yang ingin saya ikuti.
Pertemuan pekan pertama saya sudah
banyak sekali membantah pernyataan-pernyataan murobbi. Bukan karena merasa sok
pintar, namun lebih kepada ungkapan ketidaksetujuan saya terhadap jalan
pemikiran beliau. Sangat berbeda dengan apa yang selama ini saya dapat dari
orang tua dan tempat saya biasa belajar agama sebelum ini. Tetapi bukan berarti
dengan itu saya meninggalkan komunitas begitu saja, saya ikuti terus menerus
kajian mereka lebih intensif. Hingga tak terasa enam bulan berlalu begitu
cepat, ketika saya pelan-pelan mulai merasa jatuh cinta dengan kalimat-kalimat
murrobi yang tidak suka mendoktrin, tidak mudah mengkafirkan seseorang, bertabayun
terlebih dahulu tentang segala hal yang sering menjadi persoalan, sama sekali
tidak saya temukan dalam diri beliau dan kawan-kawan bersikap ekstrim seperti
sebagian orang yang merasa golongannya paling benar, bahkan tidak segan
men’khawarij’kan orang lain ketika seseorang itu tidak sesuai dengan ajaran di
golongan mereka. Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga kita terlindung dari perpecah
belahan umat islam di akhir zaman ini yang semakin terlihat tanda-tandanya.
Kini saya semakin yakin dengan apa
yang telah saya jalani. Selangkah demi selangkah, perlahan namun pasti. Tidak
tergesa dan merelakan waktu untuk berjalan apa adanya mengikuti prosesi penurunan
hidayah. Saya telah siap dengan segala resiko yang sudah menanti di depan mata.
Termasuk ketika orang tua saya mencoba melarang saya mengikuti halaqoh pekanan
ini lagi. Dengan alasan yang sebenarnya cukup masuk akal. Namun terkesan
memojokkan muslimah yang berjilbab lebar dan berniqab. Semoga Allah berkenan
memberikan petunjuk bagi mereka berdua Ayah dan Ibu.
Awalnya hanya seperti ini “Bapak cuma ingin
mengingatkan nduk, sekarang ini situasi sedang tidak memungkinkan untuk anak
gadis sepertimu keluar rumah sendirian, bapak tidak mau sampai kamu jadi korban
‘Brain Washing’ seperti berita-berita di Televisi baru-baru ini”
Saya mengangguk diam membenarkan perkataan
ayah. Namun besoknya ketika suatu sore saya merasa sangat sesak nafas berada di
dekat ayah yang saat itu sedang memegang sebatang rokok yang menyala, tanpa
rasa risih sedikitpun menghisapnya di depan saya yang nyata-nyata terlihat
sangat terganggu dengan aktifitas tersebut. Dengan penuh kekesalan saya mencoba
mengingatkan ayah tentang manfaat dan mudhorotnya orang yang merokok. Bahwa merokok di samping banyak
membawa kemudhorotan bagi diri sendiri dan orang lain, juga tidak bermanfaat
sama sekali. Bukankah Rasulullah pernah bersabda “di antara tanda-tanda baiknya
islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya”
(HR. Tirmidzi)
Kami pun terlibat dalam perdebatan
yang tak terelakan. “kata siapa aktifitas merokok tidak punya manfaat? Para
Aulia’ dijaman dahulu banyak di antara mereka yang merokok toh ilmu mereka
tidak berkurang manfaatnya bagi perkembangan Islam sampai dengan sekarang, lagi
pula merokok itu dapat merekatkan silaturahmi. Contoh nih kalo ada tamu, rokok bisa dijadikan salah
satu sajian yang mendampingi kopi atau teh kan ?” kata ayah tidak mau kalah.
“Bisakah bapak sebutkan siapa di antara para
Aulia’ itu yang bapak maksud mereka pernah di catat dalam biografi merokok sebagai
salah satu aktifitas dakwahnya? Atau bapak sebutkan saja hadist tentang merokok
itu adalah salah satu sunnah rasul yang di anjurkan untuk di ikuti?” tanyaku
balik kepada Ayah.
Akhirnya kami pun sama-sama diam dan berlepas
diri dari perdebatan yang tidak berujung kesepakatan itu.
Esok hari secara tiba-tiba ayah dan
ibu memberi keputusan yang cukup mengejutkan, beliau berdua sekarang dengan
tegas melarang saya mengikuti kajian rutin pekanan dihari ahad. Kecewa, saya
benar-benar kecewa. Hanya karena perdebatan semalam membuat mereka berpikiran
sempit. Mereka bilang sahabat saya selama ini yang memakai cadar adalah orang
fanatik yang ekstrim ajarannya, dan secara tidak langsung mempengaruhi pikiran
saya. Menurut mereka berdua sahabat saya itu akan membawa pengaruh buruk bagi
diri saya suatu saat nanti. Parahnya lagi mereka mengaitkan kami dengan NII.
Subhanallah, ah… bagi saya masa bodoh dengan apapun yang mereka katakan. Hari
ini saya masih dengan santainya berangkat ke tempat ta’lim. Ayah dan Ibu yang mengetahui
keberangkatan saya diam saja bahkan ibu masih sempat menyuruh saya sarapan
sebelum berangkat tadi pagi. Saya jadi bingung dan tersenyum kecil meninggalkan
mereka dengan wajah yang sulit di terka. Hhehe
Barokallohu fikum,
Semoga bermanfaat
Wassalam
Semarang, kurleb 6 tahun lalu.
‘cah ayu’ UmmyNisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar