Membaca
dan menulis adalah kegiatan yang sifatnya sangat personal. Ketika seseorang mempunyai minat kuat untuk
membaca, tidak ada seorang pun diluar dirinya yang tengah mempengaruhi minatnya
untuk membaca. Begitu pun jika minat
membacanya telah menstimulus jiwanya
untuk menulis, tidak ada seorang pun di luar dirinya yang tengah mempengaruhi
minatnya untuk menulis.
Membaca
dan menulis merupakan rangkaian sebab dan akibat. Seseorang dikatakan mampu
menulis ketika mempunyai perbendaharaan kata yang kaya disebabkan karena ia
gemar membaca. Membaca apa saja baik itu buku, koran, majalah, artikel sosial
media, atau apapun itu. Meskipun setiap orang memiliki kecenderungan minat baca
pada tema-tema tertentu. Namun pembaca yang baik adalah pembaca yang tetap menyerap
tulisan apa saja sebagai informasi yang pasti bermanfaat untuk bahan
kepenulisannya.
Membaca
dan menulis itu suatu keindahan. Mungkin terlalu misleading kalimat tersebut. terkesan
unyu untuk bahasan sebuah artikel serius semacam ini. Faktanya membaca
dan menulis itu memang indah. Keindahan menulis sebagaimana keindahan yang
lain-lain sifatnya relatif. Bagi seseorang membaca dan menulis bisa jadi adalah
keindahan yang sayang dilewatkan. Namun bagi sebagian orang yang lain bisa jadi
berarti sebuah siksaan. Seseorang akan larut dalam imajinasinya sendiri
manakala sedang membaca sebuah novel yang menceritakan secara deskriptif detail
suatu kejadian. Disitulah letak keindahan dari membaca. Mana kala seseorang
dapat menerjemahkan sendiri tulisan yang dibacanya dalam pikirannya secara
bebas.
Salah
satu cara mengolah kebermanfaatan dari kegemaran membaca adalah dengan menulis.
Menurut Barli Bram, menulis dapat diartikan sebagai sebuah usaha yang dilakukan
oleh seseorang untuk membuat ataupun merombak tulisan yang telah ada
sebelumnya. Dari pengertian yang dipaparkan oleh Barli, menulis adalah usaha
untuk menyebarluaskan informasi yang telah ada sebelumnya supaya lebih banyak
orang yang tahu informasi tersebut.
Adapun
menurut Amanda Enayati, seperti dilansir CNN, Jumat (1/7/2011) "Menulis
itu otomatis, intuitif (mengikuti kata hati).” Menurutnya, menulis adalah
kebutuhan dasar manusia untuk menceritakan sebuah cerita, termasuk cerita
hidupnya. Dalam hal ini menulis sama halnya dengan membagi cerita yang telah terbaca
secara pribadi dari kisah hidup seseorang atau orang lain dalam bentuk
grafik dan angka dengan bahasa tertentu.
Berharap dari tulisan tersebut dapat menginspirasi orang lain untuk dijadikan
pelajaran berharga.
Menulis
itu menutrisi jiwa. Mengapa dikatakan demikian? Karena menulis itu menstimulasi
pikiran seseorang untuk menjadi kritis. menulis itu menutrisi jiwa karena dari
menulis kita berlatih untuk mengungkapkan pendapat pribadi secara bebas dan hal
semacam itu dibutuhkan bagi jiwa untuk menjadi lebih cerdas.
Masih
tentang membaca dan menulis, menurut sebagian ulama, ada yang berpendapat
makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Al Qolam (pena yang menulis taqdir
di Al-Lauhil Mahfuzh). Hal ini berdasarkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit
radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya mahluk yang pertama kali
Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah!
Kemudian Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Allah berfirman:
Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat" (HR.Abu Dawud
dan dishahihkan Syeikh Al-Albany). Dari uraian hadits tersebut kita dapat
meyakini bahwa menulis merupakan aktivitas awal penciptaan langit dan bumi.
Dari sebuah benda bernama pena seluruhnya yang ada di alam semesta ini
dituliskan takdirnya.
Islam
telah mengajarkan pelajaran tentang
menulis jauh sebelum alam semesta ini diciptakan. Menulis adalah komponen
berharga dari sebuah peradaban manusia yang tak lepas dari peristiwa yang
nantinya akan menjadi sejarah. Tanpa menulis, sejarah tidak akan pernah terbaca
oleh generasi penerus peradaban. Jika sebuah negara tidak memiliki catatan
sejarah yang baik, maka dipastikan perkembangan generasinya tak seberapa maju
dibanding negara-negara lain yang lebih menghargai sejarah. Dan tentunya
sejarah tidak akan ada tanpa adanya literasi yang mendukung pemeliharaannya.
Jadi,
menulis adalah efek positif dari membaca. Setiap orang yang mempunyai kegemaran
membaca semestinya berbanding lurus dengan aktifitas menulis secara produktif.
Meskipun ada beberapa hambatan, seperti pertentangan ideologi dan kekhawatiran
berlebihan mengenai hal-hal lain. Kembali lagi bahwa membaca dan menulis adalah
kegiatan yang sifatnya personal. Minat yang muncul dalam diri itu didorong
secara pribadi dan membutuhkan keberanian.
Oleh:
Ummy Annisa