Sabtu, 15 April 2017

Nulis? Baca Dulu...!


 
Membaca dan menulis adalah kegiatan yang sifatnya sangat personal.  Ketika seseorang mempunyai minat kuat untuk membaca, tidak ada seorang pun diluar dirinya yang tengah mempengaruhi minatnya untuk membaca. Begitu pun  jika minat membacanya  telah menstimulus jiwanya untuk menulis, tidak ada seorang pun di luar dirinya yang tengah mempengaruhi minatnya untuk menulis.
Membaca dan menulis merupakan rangkaian sebab dan akibat. Seseorang dikatakan mampu menulis ketika mempunyai perbendaharaan kata yang kaya disebabkan karena ia gemar membaca. Membaca apa saja baik itu buku, koran, majalah, artikel sosial media, atau apapun itu. Meskipun setiap orang memiliki kecenderungan minat baca pada tema-tema tertentu. Namun pembaca yang baik adalah pembaca yang tetap menyerap tulisan apa saja sebagai informasi yang pasti bermanfaat untuk bahan kepenulisannya.
Membaca dan menulis itu suatu keindahan. Mungkin terlalu misleading kalimat tersebut. terkesan unyu untuk bahasan sebuah artikel serius semacam ini. Faktanya membaca dan menulis itu memang indah. Keindahan menulis sebagaimana keindahan yang lain-lain sifatnya relatif. Bagi seseorang membaca dan menulis bisa jadi adalah keindahan yang sayang dilewatkan. Namun bagi sebagian orang yang lain bisa jadi berarti sebuah siksaan. Seseorang akan larut dalam imajinasinya sendiri manakala sedang membaca sebuah novel yang menceritakan secara deskriptif detail suatu kejadian. Disitulah letak keindahan dari membaca. Mana kala seseorang dapat menerjemahkan sendiri tulisan yang dibacanya dalam pikirannya secara bebas.
Salah satu cara mengolah kebermanfaatan dari kegemaran membaca adalah dengan menulis. Menurut Barli Bram, menulis dapat diartikan sebagai sebuah usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk membuat ataupun merombak tulisan yang telah ada sebelumnya. Dari pengertian yang dipaparkan oleh Barli, menulis adalah usaha untuk menyebarluaskan informasi yang telah ada sebelumnya supaya lebih banyak orang yang tahu informasi tersebut.  
Adapun menurut Amanda Enayati, seperti dilansir CNN, Jumat (1/7/2011) "Menulis itu otomatis, intuitif (mengikuti kata hati).” Menurutnya, menulis adalah kebutuhan dasar manusia untuk menceritakan sebuah cerita, termasuk cerita hidupnya. Dalam hal ini menulis sama halnya dengan membagi cerita yang telah terbaca secara pribadi dari kisah hidup seseorang atau orang lain dalam bentuk grafik  dan angka dengan bahasa tertentu. Berharap dari tulisan tersebut dapat menginspirasi orang lain untuk dijadikan pelajaran berharga.
Menulis itu menutrisi jiwa. Mengapa dikatakan demikian? Karena menulis itu menstimulasi pikiran seseorang untuk menjadi kritis. menulis itu menutrisi jiwa karena dari menulis kita berlatih untuk mengungkapkan pendapat pribadi secara bebas dan hal semacam itu dibutuhkan bagi jiwa untuk menjadi lebih cerdas.
Masih tentang membaca dan menulis, menurut sebagian ulama, ada yang berpendapat makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Al Qolam (pena yang menulis taqdir di Al-Lauhil Mahfuzh). Hal ini berdasarkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya mahluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Allah berfirman: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat" (HR.Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh Al-Albany). Dari uraian hadits tersebut kita dapat meyakini bahwa menulis merupakan aktivitas awal penciptaan langit dan bumi. Dari sebuah benda bernama pena seluruhnya yang ada di alam semesta ini dituliskan takdirnya.
Islam telah mengajarkan  pelajaran tentang menulis jauh sebelum alam semesta ini diciptakan. Menulis adalah komponen berharga dari sebuah peradaban manusia yang tak lepas dari peristiwa yang nantinya akan menjadi sejarah. Tanpa menulis, sejarah tidak akan pernah terbaca oleh generasi penerus peradaban. Jika sebuah negara tidak memiliki catatan sejarah yang baik, maka dipastikan perkembangan generasinya tak seberapa maju dibanding negara-negara lain yang lebih menghargai sejarah. Dan tentunya sejarah tidak akan ada tanpa adanya literasi yang mendukung pemeliharaannya.
Jadi, menulis adalah efek positif dari membaca. Setiap orang yang mempunyai kegemaran membaca semestinya berbanding lurus dengan aktifitas menulis secara produktif. Meskipun ada beberapa hambatan, seperti pertentangan ideologi dan kekhawatiran berlebihan mengenai hal-hal lain. Kembali lagi bahwa membaca dan menulis adalah kegiatan yang sifatnya personal. Minat yang muncul dalam diri itu didorong secara pribadi dan membutuhkan keberanian.

Oleh: Ummy Annisa


Tukang Kambing Bersepatu Mengkilat

Setiap pagi di sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor p...