Ya habibty... mungkin cinta ini
tidak akan pernah bisa memenuhi ruang hatimu yang luas. Cinta yang sederhana
ini tidak akan pernah mampu memuaskan keinginanmu menuju kebahagiaan sempurna.
Karena aku bukanlah malaikat dengan dua sayap putih yang bisa membawamu terbang
berkeliling langit biru, melewati seluruh samudera pengharapan dan menghidupkan
jiwa-jiwa mati yang telah terbunuh oleh luka cerita lama.
Aku juga bukan seonggok permata biru
yang mungkin ketika ada seseorang menghadiahkan kepadamu dengan segenap
ketulusan jiwa, maka senyummu tiba-tiba tersimpul demi keharuan menerima
persembahan cinta yang luar biasa. Aku tak seindah itu, aku tidak terlalu
istimewa.
Andai engkau mau memahami, dan sejenak
meninggalkan ego dalam menilai cinta dari sudut pandangmu sendiri, mungkin
semuanya tidak akan terlalu rumit. Seribu kali aku menjelaskannya padamu, bahwa
cinta ini telah sempurna mencapai sebuah hakikat. Aku tidak hanya menggunakan
perasaanku yang buta, aku bahkan menggunakan seluruh akalku demi bisa
membahagiakan manusia indah sepertimu.
Mencintai dengan hanya menggunakan
hati itu pekerjaan orang tolol yang rela menghamba cinta demi sebuah kebersamaan,
padahal sejatinya dia tidak mampu membersamai orang yang dicinta. Jika
seseorang berkata hakikat cinta yang haq itu ketika seseorang tidak ingin
memiliki, maka dia telah berbohong kepada kenyataan. Itu hanyalah sebuah
mekanisme pertahanan diri, upaya jiwa-jiwa penghamba cinta menciptakan
kebahagiaan palsu yang diciptakannya
dalam kondisi yang teramat frustasi. Kebahagiaan baginya tak lebih dari sesuatu
yang nisbi. Hanya itu, hingga dia menutup sepasang telinga dan matanya untuk
mendengarkan teriakan orang-orang terkasih disekitarnya. Dia telah buta dan
tuli, sampai sebuah kemalangan menimpanya pun tidak akan ada yang bisa
menolongnya. Dia telah lebur dan hancur sia-sia.
Cinta macam apakah itu ? Itulah
cinta Majnun kepada Laila, cinta yang menghancurkan peradaban, melumpuhkan
akal. Padahal Qais adalah pemuda belia yang cerdas, permata hati ibundanya,
cahaya mata ayahandanya. Namun cinta telah merubahnya menjadi gila/Majnun,
sampah bagi kaumnya yang terkenal beradab. Ia pun mati di atas pekuburan Laila, menunggui sang
pengantin jiwa yang berkalang tanah terlebih dulu. Tubuhnya dibiarkan begitu
saja, teronggok di sisi nisan Laila sang kekasih hati sampai menjadi tulang
belulang yang disapu angin tertutup dedaunan. Apatah dia dulu pemuda cerdas
yang disegani berbagai kalangan, ia mati tak seorang pun sudi menganggapnya
sebagai manusia. Kalaupun ada yang menangisinya, mereka menangisi kekeliruan
Qais, sang Pemuda cerdas yang kini menjadi majnun akibat bencana hebat melanda
jiwanya. Bencana cinta.
Masih ingatkah juga kamu dengan kisah
pemuda laskar Islam di jaman tabi’in? pemuda yang bahkan cahaya pedangnya
menantang matahari, sinar pedangnya bagaikan seringai mata serigala yang siap
menerkam dan mencabik tubuh para musuh di medan perang. Memukul mundur tentara
Romawi dengan ayunan pedang yang menebas satu demi satu dan menggeleparkan
tubuh-tubuh nista ke atas tanah menyambut malaikat maut. Pemuda perkasa yang
namanya tertulis dalam kisah Abdah Bin Abdurrahim disebuah kitab masyhur
Al-Muntazham. Ia telah mati dalam keadaan meninggalkan iman Islamnya sebagai
seorang nasrani. Pemuda yang memiliki kisah berbeda dengan Qais namun memiliki
akhir hayat yang sama-sama memilukan. Jiwanya telah tergadai cinta oleh
kecantikan seorang perempuan Romawi. Hafalan Al Qur’annya hilang. Sama seperti
Qais, ia menjadi buta dan tuli. Bahkan ia tak mampu memperdengarkan lantunan ayat
suci untuk telinganya sendiri kecuali dua ayat yang seakan-akan menjadi hujjah
bagi kekufurannya.
Lalu, masihkah kamu menginginkan
cintaku seperti dua kisah di atas? kau adalah penawar luka bagiku. Aku
memberikanmu dua pilihan dalam mencintai, sebagai apakah kamu menginginkan
kisah kita ditulis dalam sejarah? Meski tidak akan ada satu orang pun yang tau.
Tapi aku terlanjur menulisnya dalam folder-folder pribadi untuk kelak kujadikan
kenangan. Saat kehidupan kita satu persatu berubah, saat masa demi masa
terlewat begitu saja. Saat kerinduan tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat
menyesakkan dada. Bukankah masa lalu seluruhnya adalah kenangan untuk masa
depan kita ya habibty?!
Aku mencintaimu dengan cara yang
berbeda, bukan dengan cara Qais mencintai Laila, bukan dengan caraku mencintai
siapapun. Aku mencintaimu dengan caraku yang in sya Allah penuh harap diridhoi.
Kamarku,
Ummy Annisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar