Sabtu, 03 Juni 2017

SAKSIKANLAH BAHWA AKU 'bukan' PANCASILA


Kebenaran hanya lahir dari beningnya hati. Isi kepala tidak mencerminkan kebersihan dada.
Keadilan hanya lahir dari kebijaksanaan, dari jiwa-jiwa yang terdidik manisnya iman.
Ketika persoalan negeri membutuhkan obat dengan dosis paling tinggi kemudian memberi efek resistensi bagi rakyatnya, maka rakyatlah yang rugi. Padahal manusia diciptakan satu paket dengan antibodinya. Begitu pun negeri yang sedang menjadi dongeng kita saat ini, sebelum lelap dalam tidur panjang.

Aku pernah membaca kisah padang-padang terbuka dan matahari membusur api dilangit sumbawa, betapa indah  meski kusaksikan hanya lewat puisi.

Aku juga pernah mendengar kisah pancasila, tak perlu dirapal apalagi dihafal. Serupa kita tak hafal rumus kimia oksigen, tetapi tiap hela menghirup oksigen. Betapa unik meski kusaksikan lewat deklamasi sastrawan nyentrik.

Aku pernah menyaksikan kisah pemuda bersuku minang yang besar di Ujung Pandang. Menjadi gila karena cintanya kepada Hayati, namun ujung kisahnya tak seburuk cinta Qais kepada Laila.
Inilah negeriku...

Negeri dengan ribuan dongeng pengantar tidur panjang. Negeri dengan ideologi pancasila versi masing-masing agama. Negeri dimana yang hanya memiliki tuhan satu adalah sasaran tombak paling utama. Padahal mereka selalu berteriak “Saya Pancasila... Saya Pancasila...” tapi mereka sengaja buta dengan sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”



Lalu salahkah jika rinduku tak semenggebu rindu Taufik Ismail  pada Sumbawa, cintaku tak seunik Sujiwo Tejo pada pancasila dan kisahku tak semenarik Hamka tentang kapal Van der Wijck. Mungkin tak salah, hanya saja aku merasa benar dengan berkata “Saksikanlah bahwa aku bukan pancasila...”

Tukang Kambing Bersepatu Mengkilat

Setiap pagi di sebuah hunian, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan aktifitas harian mereka. Suami bersiap berangkat ngantor p...