Kebenaran hanya lahir dari beningnya
hati. Isi kepala tidak mencerminkan kebersihan dada.
Keadilan hanya lahir dari kebijaksanaan,
dari jiwa-jiwa yang terdidik manisnya iman.
Ketika persoalan negeri membutuhkan obat
dengan dosis paling tinggi kemudian memberi efek resistensi bagi rakyatnya,
maka rakyatlah yang rugi. Padahal manusia diciptakan satu paket dengan
antibodinya. Begitu pun negeri yang sedang menjadi dongeng kita saat ini,
sebelum lelap dalam tidur panjang.
Aku pernah membaca kisah padang-padang
terbuka dan matahari membusur api dilangit sumbawa, betapa indah meski kusaksikan hanya lewat puisi.
Aku juga pernah mendengar kisah
pancasila, tak perlu dirapal apalagi dihafal. Serupa kita tak hafal rumus kimia
oksigen, tetapi tiap hela menghirup oksigen. Betapa unik meski kusaksikan lewat
deklamasi sastrawan nyentrik.
Aku pernah menyaksikan kisah pemuda
bersuku minang yang besar di Ujung Pandang. Menjadi gila karena cintanya kepada
Hayati, namun ujung kisahnya tak seburuk cinta Qais kepada Laila.
Inilah negeriku...
Negeri dengan ribuan dongeng pengantar
tidur panjang. Negeri dengan ideologi pancasila versi masing-masing agama.
Negeri dimana yang hanya memiliki tuhan satu adalah sasaran tombak paling
utama. Padahal mereka selalu berteriak “Saya Pancasila... Saya Pancasila...”
tapi mereka sengaja buta dengan sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”
Lalu salahkah jika rinduku tak
semenggebu rindu Taufik Ismail pada
Sumbawa, cintaku tak seunik Sujiwo Tejo pada pancasila dan kisahku tak
semenarik Hamka tentang kapal Van der Wijck. Mungkin tak salah, hanya saja aku
merasa benar dengan berkata “Saksikanlah bahwa aku bukan pancasila...”